Pengalaman Periksa dan Cabut Gigi Geraham di Klinik Medika Antapani (Pasien UMUM)

Ceritanya sudah beberapa minggu ini Ceuceu, si Cikal, mengeluh sakit di giginya. Tepatnya di geraham. Penyebabnya adalah tumbuhnya gigi yang baru, sementara gigi susu lama masih belum tanggal juga. Padahal hampir semua gigi susu yang lain biasanya tanggal dengan mudah tanpa bantuan dokter gigi. Kecuali gigi geraham bawah kanan dan satu gigi atas depannya yang bermasalah.

Agak mengganggu juga sih, karena anaknya jadi rudet. Apalagi kalau sudah makan. Kadang malah sampai seharian gak mau makan karena giginya yang terasa sakit. Pokoknya… penuh drama!

Karena kegiatannya di sekolah, Ceuceu hanya bisa berkunjung ke dokter gigi di sore hari atau di akhir pekan.

Sudah berkali-kali saya dan Ceuceu mencoba berkunjung ke dokter gigi di dekat rumah, namun rupanya kami belum beruntung. Karena dokter gigi di dekat rumah kebetulan sedang berlibur dan tidak praktik. Ke Puskesmas? Lah… yang praktek di Puskesmas ini kan dokter gigi di dekat rumah. Jadi pasti di Puskesmas juga gak ada dokter giginya hihihi

Alternatif lain, paling ke dokter gigi di Subang, Lembang atau Bandung.

Dengan pertimbangan arus lalu lintas di akhir pekan yang seringkali padat, daripada terjebak macet di Bandung, sehari menjelang puasa “terpaksa” saya membawa Ceuceu ke Subang.

Setibanya di tempat praktik drg. Firly di Subang, saya langsung menuliskan nama di daftar antrian pasien dan kebagian nomer 14. Sementara yang sedang diperiksa di dalam adalah pasien nomer 6. Setelah lebih dari 1 jam menunggu, ada assisten dokter yang keluar dan mengabarkan kalau ternyata drg. Firly hanya sanggup melayani 2 pasien lagi. Aduh… padahal dari rumah ke Subang teh jauh pisan huhu

Terus gimana nih nasib gigi Ceuceu? Besok sudah mulai puasa. Kebayang kan repotnya ke dokter gigi di bulan puasa?

Untungnya di awal puasa sekolah memang diliburkan. Kesempatan libur sekolah ini tentu saja tidak saya sia-siakan. Buat apalagi kalau bukan ke Bandung. Kebetulan juga anggota grup Tahu Bulat 4.0 memang sudah janjian untuk kumpul-kumpul di rumah Nene.

Nah, pas nih…. di Bandung mah gak bakal susah cari dokter gigi. Ada dokter gigi langganan jaman dulu masih di Antapani, drg. Ihsan dan istrinya drg. Ken, atau ke dokter gigi di Klinik Medika Antapani yang jumlahnya banyak dan jadwal praktiknya beragam.

Daftar ke Klinik Gigi drg. Ihsan…

Hari Selasa, selepas Isya, saya bergegas menuju tempat praktik drg. Ihsan di Jl Purwakarta No. 97. Nampak ada beberapa pasien yang sedang duduk di ruang tunggu. Sayangnya, menurut resepsionis, pasien drg. Ihsan malam itu sudah cukup penuh. Ada 6 pasien yang sudah punya janji temu malam itu, sementara drg. Ihsan pun baru akan datang setelah selesai tarawih.

Aduh, 6 pasien kalau diperiksa di dokter umum sih gak bakal lama ya. Ini mah di dokter gigi… sepertinya 6 pasien baru akan selesai sahur nanti.

Resepsionis menyarankan agar saya membuat janji temu buat hari Jumat siang. Karena untuk 2 hari ke depan, juga Jumat malam, janji temu drg. Ihsan sudah penuh.

Duh… padahal sudah diniatkan mudik teh mau periksa ke dokter gigi, karena di Subang sampai ngantri-ngantri. Ternyata begitu pula dokter gigi di Bandung.

Nampaknya profesi dokter gigi memang menjanjikan ya. Sepertinya karena kesadaran merawat gigi juga sudah mulai bertambah. Atau justru karena pola makan dan gaya hidup yang makin berantakan, sampai-sampai banyak yang giginya bermasalah dan konsultasi ke dokter gigi?

Untungnya seperti yang saya ceritakan sebelumnya, di Bandung mah gak perlu susah cari dokter gigi. Ada banyak soalnya.

Gagal di drg. Ihsan, saya pun bergegas ke Klinik Utama Medika Antapani yang berada di Jln. Purwakarta No. 3 Antapani. Tapi karena sudah nyaris jam 9, rupanya di Medika pun sudah tidak menerima pendaftaran. Oleh resepsionis saya disarankan untuk mengambil nomer pendaftaran pagi hari… “jam 8 sudah buka, bisa datang dari jam 7″, kata resepsionis. Baiklah kalau begitu, besok pagi saya akan kembali lagi ke Medika Antapani…

Daftar ke Dokter Gigi di Klinik Medika Antapani sebagai Pasien Umum

Keesokan harinya, sesuai saran resepsionis, saya pun datang ke Klinik Utama Medika Antapani sekitar jam 8 pagi.

Klinik Utama Medika Antapani

Sampai di Klinik, saya malah bingung… ini daftarnya gimana ya?

Maklum saja, saya dan anak-anak memang jarang berobat ke dokter atau ke klinik. Terlebih sejak tinggal di Subang. Kalau terasa agak kurang sehat, cukup istirahat yang banyak alias tidur. Pokoknya selama masih bisa haha hihi di medsos dan WA, berarti saya sehat.

Setelah celingukan sebentar, saya menemukan monitor seperti ini di dekat pintu masuk (saat datang ke Klinik untuk pendaftaran, saya tidak membawa HP).

Ah ya, rupanya di sinilah seharusnya saya melakukan pendaftaran.

Di layar monitor kita tinggal memilih layanan yang akan kita gunakan, Pasien Umum & KIA (Klinik Ibu dan Anak) atau Pasien Gigi. Nanti akan muncul nama dan jadwal dokter yang kosong.

Kebetulan, hanya ada satu dokter yang masih tersedia di layar monitor, yaitu drg. Agung Priyambodo Sp.Pros. Kebetulan pula, prakteknya mulai jam 7 malam. Bisa lah buka puasa dulu di rumah.

Setelah memilih dokter sesuai jadwal, kemudian ada kertas yang keluar sebagai bukti pendaftaran.

Untuk memastikan, saya pun menuju meja pendaftaran (letaknya tidak jauh dari mesin pendaftaran). Di meja pendaftaran, saya ditanya apakah sudah pernah berobat di Medika Antapani sebelumnya? Oh tentu saja. Dulu Ceuceu pernah jadi langganan dokter anak di sini.

Oleh resepsionis, saya diminta nama lengkap dan alamat untuk dicari datanya di komputer. Dan ya… data-data Ceuceu memang masih ada. Padahal terakhir berobat ke Klinik Medika Antapani ini sudah hampir 10 tahun yang lalu. Hebat.

Setelah itu kertas yang keluar dari mesin pendaftaran tadi diminta oleh resepsionis untuk diberi nomer pendaftaran. Karena memang di kertas belum tertera nomer pendaftaran. Nanti, ketika jam periksa tiba, kertas ini ditunjukkan lagi di meja resepsionis.

Di sini saya diminta Rp. 10.000 untuk biaya pendaftaran (untuk pasien baru, ada tambahan Rp. 5.000)

Untuk pasien lama, pendaftaran juga bisa dilakukan melalui Whatsapp

Caranya :

1. Ketik DAFTAR (spasi) No Bpjs (spasi) Jam pelayanan.
2. Pendaftaran via Whatsapp dibuka 2 sesi.
-Sesi pagi jam 07:00 dibuka
-Pendaftaran Poli Umum jam 08:00 & jam 11:00
-Sesi Siang, jam 13:00 Dibuka
-Pendaftaran Poli jam 14.00 & jam 17.00
3. Kirim Ke No WhatsApp KPMA 1 :
+62 811-2088-872

*Catatan : Pasien baru belum bisa melakukan pendaftaran via Whatsapp.

Selain melayani Pasien Umum, sebenarnya Klinik Medika juga melayani Pasien BPJS sebagai Faskes Tingkat 2. Nah, kalau sudah punya rujukan dari Puskesmas, Klinik Medika bisa nih dijadikan tempat pemeriksaan pasien BPJS dengan indikasi medis yang tidak bisa ditangani Faskes tingkat pertama. Tapi datangnya jangan ke Klinik Utama ya. Untuk pasien BPJS ada Klinik Pratama Medika Antapani di Jln. Purwakarta No. 1 Antapani, Bandung.

Periksa gigi ke Poli Gigi Klinik Medika Antapani sebagai Pasien UMUM

Setelah buka puasa, saya segera meminta Ceuceu untuk sikat gigi sebelum ke dokter gigi. Lalu kami berangkat jam 7 kurang 10 menit.

Sampai di Klinik Medika Antapani, saya menuju meja registrasi dan menyerahkan kertas pendaftaran. Ternyata pasien nomer 1 mengundurkan diri. Jadilah Ceuceu yang tadinya nomer 2, geser ke nomer 1.

Resepsionis meminta saya naik ke Poli Gigi di Lantai 2 sambil menunggu dokter gigi dan dicarikan berkas rekam medik milik Ceuceu. Untuk sampai ke Lantai 2, kita bisa menggunakan tangga yang ada di sebelah kiri meja registrasi.

Di ruang tunggu Poli Gigi ternyata memang belum ada siapa-siapa. Melihat tidak ada pasien lain, saya jadi penasaran ikut periksa gigi geraham bungsu yang sudah lama cukup mengganggu.

Saya segera turun lagi ke Lantai 1, melakukan pendaftaran di meja registrasi dan mendapatkan nomer pendaftaran 2. Kali ini tidak perlu daftar di mesin pendaftaran, karena memang pasiennya kosong hehe.

Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, ada perawat yang membawa berkas rekam medik milik Ceuceu dan saya. Dan kami pun dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan, ternyata diketahui kalau gigi susu Ceuceu ini adalah gigi susu terakhir dan susah tanggal sendiri karena… akar giginya nyangkut di antara sela-sela gigi baru dan gigi lama.

Jadi gigi geraham Ceuceu nyaris tanggal semua, hanya saja ada akar yang menyangkut di sela gigi.

Aduuuhh… pantesan tiap kali mengunyah makanan, Ceuceu rudet pisan.

Selesai pencabutan gigi Ceuceu, giliran saya yang diperiksa.

Nah… bagian ini cukup membuat saya yang tadinya tidak merasa sakit, tiba-tiba nyut-nyutan sakit kepala haha.

Bagaimana tidak, menurut drg. Agung, gigi geraham bungsu saya mahkotanya sudah habis. Memang sih, beberapa kali gigi bungsu ini hancur berkeping-keping. Selain itu, di gigi geraham bungsu ini juga sudah tumbuh polip. Heh? Apa pula itu? Koq ada polip di gigi?

Karena proses pencabutan gigi geraham dengan mahkota yang sudah habis ditambah adanya polip ini agak sulit, drg. Agung kemudian membuat rujukan agar saya menemui dokter bedah mulut juga rujukan untuk rontgent panoramic.

Di Klinik Medika Antapani sudah ada dokter bedah mulut, untuk jadwalnya bisa ditanyakan ke bagian pendaftaran. Hanya saja untuk rontgent panoramic harus ke laboratorium lain.

Penasaran, saya tanya sekalian berapa kira-kira biaya yang harus saya sediakan untuk pencabutan gigi geraham dengan penyulit seperti ini?

Menurut drg. Agung yang dikonfirmasi ke perawat, biayanya sekitar Rp. 1.5 juta. Nah… tuh, gimana gak senut-senut kepala saya.

Konsultasi ke dokter bedah mulutnya nanti saja deh. Yang penting saya sudah punya rujukannya. Lagipula, konsultasi dengan dokter bedah mulut tidak bisa mendadak, dan menurut saya sih lebih baik rontgent dulu biar gak bolak balik. Untuk malam ini, saya memutuskan pulang saja.

Sebelum pulang tentu saja saya mampir dulu ke kasir.

Berapa harga konsultasi dan cabut gigi di Klinik Medika Antapani?

Pencabutan gigi Ceuceu dikenakan biaya Rp. 250.000, sementara konsultasi saya dikenakan biaya Rp. 86.000.

Terasa agak mahal jika dibandingkan dengan tarif dokter gigi di dekat rumah, apalagi saya yang sekadar konsultasi… buka mulut saja 86 ribu huhu… Bisa jadi karena yang memeriksa adalah dokter spesialis. Tapi ya gak apa-apa sih, yang penting sekarang gigi Ceuceu sudah aman, mudah-mudahan gak ada lagi drama ketika mengunyah makanan.

Bagaimana dengan geraham bungsu saya? Hmmm… setidaknya sudah ada gambaran berapa biaya yang harus dikeluarkan jika tidak memakai BPJS. Terus kapan ke bedah mulut? Pikir-pikir dulu deh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *